“kau yang
katakan padaku bahwa hidup adalah pilihan. Aku memilihmu. Walau aku tau sampai
kapan pun kau tidak memilihku… tapi setidaknya kita bersama sekarang.”
hujan deras turun tepat ketika aku melihat seorang pria yang
hampir tiga tahun ini datang ke gereja tempat aku tinggal bersama ayah
angkatku. Sejak tiga tahun lalu aku melihatnya terkadang menangis didepan altar
atau terkadang wajahnya terlihat mengucap rasa syukurnya kepada tuhan. Entah
apa yang membuat ku selalu memperhatikan nya. Mungkin aku merasa dia baik, ah…
bukan itu, ya kuakui dia memang baik karena dibandingkan beberapa jemaat
disini, dia yang selalu memberi santunan atau pun hanya sekedar bantuan kepada
gereja ini. Gereja ini juga termasuk gereja yang cukup tua dan jemaatnya pun
hanya sedikit. Yah… mau bagaimana lagi, gereja ini juga berapa di daerah
terpencil di Seoul.
Kembali pada
seorang pria ini, hari ini pun aku melihatnya menangis di depan altar,
sebenarnya sudah hampir 2 tahun terakhir ini aku menguping apa yang dia ceritakan
pada tuhan. Kurasa dia sedang memiliki masalah dengan pacarnya. Semakin lama
aku mendengar ceritanya terkadang aku hanyut dalam ceritanya dan ikut merasakan
apa yang dia rasakan, terdengar berlebihan tapi mungkin aku mulai menyukai pria
ini. Setiap kali mendengar isak tangisnya ingin sekali aku menghampirinya lalu
memeluknya. Ya aku mengingat namanya Hwang Zi Tao. Ayahku biasa memanggilnya
Tao.
Hari ini
isak tangisnya lebih dalam dari biasanya,
“Tuhan, kau
yang mengirimnya untuk menjagaku. Buat lah itu menjadi selamanya, aku selalu
mengingat janjinya tapi mengapa dia selalu meninggalkanku? Dia selalu membuatku
menunggu lama dirumah dan selalu saja kulihat fotonya besama dengan seorang
wanita. Apa yang salah dengan hubungan kami? Aku mencintainya, tuhan.”
Yang
kurasakan selalu rasa sakit setiap kali dia menyebut kata nya atau dia, tapi apa
hak ku? Kami saja belum saling mengenal. Aku melangkah perlahan dari belakang
papan dekat altar yang biasa dia menumpahkan keluh kesahnya. Tanpa kusadari
dibelakang ku ada papan lain, kakiku menyentuh papan itu dan seketika suara
gaduh memenuhi gereja.
“BRAAAAAK!”
papan itu jatuh kudengar seseorang berlari kearahku dan papan itu. Suaranya
begitu familiar.
“Kau tidak
apa-apa?” Kata Tao sembari memegang bahuku. Aku terkejut dan sontak menyingkir
darinya.
“tidak, aku
hanya sedikit kaget.” Kataku padanya sembari menundukan wajahku.
Bodohnya
aku, pikirku dalam hati. Ini pertama kalinya aku berbicara dengannya dan aku
merasa sangat gugup.
“Hem… kau
bukannya anak angkat pendeta Sooman? Kai, ya?” kata Tao sembari tersenyum
kearahku. Matanya begitu lembut menatap kearah mataku dan sedikit perasaan
sedih terukir dimatanya.
“Hei hei?
Kau Kai, kan?” Tanya nya kembali sembari memetikkan jarinya didepan mataku.
“Eh…i-i-iya
itu benar.” Suaraku terdengar gugup.
“Aku Tao,
salah satu jemaat disini. Senang mengenalmu.” Suaranya terdengar begitu ringan.
Tangannya meraih tanganku lalu menjabatnya. Tangannya begitu halus dan ringan.
Tak lama dia melepaskan tangannya dariku.
“Sedang apa
kau disini?” Tanya nya padaku. Sementara aku masih saja menundukkan kepala
karena tidak sanggup melihat wajahnya. Mungkin sekarang dia sedang menatapku
bingung.
“Aku tadi
hanya kebetulan lewat dan mendengar suara seseorang sedang menangis--”
Kata-kata itu tiba-tiba terlontar begitu saja lalu aku langsung menutup
mulutku. Aku melirik kearahnya, entah mengapa dia menatapku dengan mata yang
memohon pertolongan. Melihat tatapannya yang seperti itu membuat aku
melanjutkan kata-kataku…
“Ternyata
memang ada seseorang disini. Maaf bila aku menginterupsi aduanmu terhadap
tuhan, tapi jika kau mau aku bisa jadi teman mu berbagi cerita.” Kataku sembari
mencoba tersenyum wajar kearahnya.
Dia
tersenyum kearahku dan berkata. “Terima kasih, Kai. Ternyata benar, anak
pendeta Sooman baik dan sangat perhatian.” Lalu dia melihat kearah jam
tangannya. “Hem, aku harus pergi. Mungkin lain kali aku berkunjung kesini, kita
bisa berbagi cerita dan jadi teman baik.” Tao berlari kecil menjauhiku sembari
melambaikan tangannya. Hari ini adalah hari baikku.
“Ayah, aku
ingin bertanya.” Kataku pada ayahku yang sedang membereskan rak-rak di
perpustakaan kecil gereja.
“Ada apa
nak?” Kata ayahku yang masih saja sibuk dengan tumpukan buku dan debu.
“Apakah ayah
sudah lama mengenal Tao?” Kataku yang mulai membantu ayahku di perpustakaan
itu. Pikiran ku terkadang mengawang-awang saat hari kemarin ketika aku
berbicara dengan Tao.
Kulihat
ayahku sejenak menghentikan aktivitasnya lalu melirikku sebentar dan
melanjutkan pekerjaannya lagi sembari menjawab pertanyaanku.
“Kau sudah
berbicara dengannya ya? Dan ayah rasa kau punya rasa simpati kepadanya karena
dia sering menangis di depan altar, bukan begitu?” aku hanya menganggukkan
kepalaku, lalu ayahku melanjutkan.
“Dulu ayah
Tao adalah salah satu jemaat yang paling sering datang bahkan sering sekali
membantu membereskan gereja, dulu dia dan istrinya juga menikah disini. Ayah
sangat mengenal baik orang tuanya sampai akhirnya orang tuanya meninggal 5
tahun lalu. Setahu ayah setelah itu Tao hidup bersama seorang pria, entah
siapa. Menurut beberapa orang yang dulu juga mengenal ayahnya, pria itu adalah teman
sepermainan Tao ketika dia masih kecil. Dan pria itu yang sering dia tangisi di
depan altar, nak. Untuk itu setiap kali Tao berada disini ayah selalu menutup
gereja sampai dia pulang agar dia bisa bercerita sesuka hatinya. Itu perwujudan
rasa terima kasih ayah kepada ayahnya Tao.” Ayahku menceritakan itu sembari
terkadang menghela napas panjang.
Aku hanya
menganggukkan kepalaku lagi. Lalu ayahku mengusap kepalaku dan berkata…
“Mungkin ada
baiknya kau berteman dengannya dan mendekatkannya pada tuhan, nak. Setidaknya
umur kalian tidak terlalu jauh. Lagi pula kalian sepertinya bisa menjadi teman
baik.” Dalam hatiku berkata. Mendekatkannya pada tuhan? Yang ku yakini adalah
bahwa tuhan bahkan malah mengutukku karena perasaan ku pada Tao sekarang bukan
hanya ingin menjadi teman dekatnya.
Beberapa
hari setelahnya Tao datang kembali ke Gereja. Saat itu aku sedang menyapu
halaman Gereja. Langkah kakinya yang berhenti mendadak di hadapanku membuatku
menghentikan aktivitasku.
“Haaai, Kai.
Maaf mengganggu pekerjaanmu. Bagaimana kabarmu?” Kata Tao sembari menepuk-nepuk
bahuku.
“A-a-aku
baik. Tidak, kau tidak menggangguku. Aku hanya sedang iseng karena tadi melihat
banyak daun kering. Bagaimana denganmu?” Jawabku sembari merapihkan baju yang
aku kenakan.
“Aku juga
baik. Kau sibuk tidak hari ini? Aku ingin mengajakmu minum kopi di kafe kecil
dekat sini. Mungkin kita bisa berbagi cerita disana.” Tao mengatakan itu
sembari tersenyum kearahku.
“Sepertinya
aku bisa, tapi tidak apa kan bila kau menunggu ku membereskan halaman ini
dulu?” Kataku yang kembali mencoba tersenyum wajar didepannya. Dia hanya
membalas pertanyaanku dengan anggukan cepat. Lalu dia berlari ke dekat gerbang
dan duduk di bawah pohon cemara besar sembari memasangkan headphone di
telinganya.
Aku segera
membereskan pekerjaanku secepat mungkin lalu masuk kembali ke gereka untuk
mengganti pakaianku. Karena sehari-harinya aku di salam gereja harus memakai
pakaian pendeta seperti ayahku. Selepas aku mengganti baju, aku berlari
keruangan ayahku.
“Ayah, aku
ingin keluar sebentar bersama dengan Tao, apakah boleh?” Ayahku yang sedang
membaca buku melihatku lalu tersenyum.
“Silahkan
saja, nak. Ingat tugasmu. Dekatkan lah dia dengan tuhan.” Aku hanya mengangguk
ragu lalu pergi meninggalkan ayahku.
Saat aku
kelar dari pintu gereja, dan disana aku melihat Tao yang tetap diposisi dan
tempat yang sama hanya saja matanya terlihat basah karena air matanya kembali
turun. Aku langsung berlari kearahnya dan memeluknya. Aku merasa dia sedikit
kaget tapi tak lama dia membalas pelukanku lalu menangis dengan sedihnya.
Kami sampai
di kafe kecil dekat gereja dan memesan dua kopi dan beberapa makanan ringan.
Ujung bawah kaos yang ku kenakan terlihat basah. Tao hampir menangis lebih dari
30 menit, untung saja daerah gereja kami terhitung sepi jadi dia bisa menangis
sesuka hatinya.
“Kau sudah
siap menceritakan seuatu denganku sekarang?” Kataku sembari mengelaukan sapu
tangan dan memberikannya pada Tao. Dia mengambilnya dan mengusapkannya ke kedua
matanya lalu menganggukkan kepalanya. Tak lama dia menghela napas panjang.
“Aku
memiliki… sebut saja dia pasanganku.” Yaa aku tau, ucapku dalam hati. “Kami
sudah lebih dari delapan tahun memiliki hubungan khusus, terlebih saat orang
tuaku meninggal lima tahun lalu. Dulu kami teman sepermainan dan mungkin memang
hanya dia yang mau bermain denganku. Waktu kecil banyak yang bilang aku aneh,
dan hanya dia yang membelaku dan mau menemaniku bermain. Aku sangat
menyayanginya. Dan aku berharap dia pun begitu—“
“Kau
berharap? Memangnya dia tidak?” Kataku memotong ceritanya. Tao hanya
menggelengkan kepalanya dan melanjutkan.
“Dia
mengatakan dia menyayangiku, terlebih dia berjanji akan menjagaku setelah orang
tua ku meninggal, tapi entah mengapa yang kurasakan sekarang hanya lah dia yang
mempunyai beban tugas untuk menjagaku. Dan tidak menyayangiku apa lagi
mencintaiku.” Tao menundukkan kepalanya.
“Boleh aku
bertanya?” Kataku, yang tak lama pesanan kami datang. Tao hanya menganggukkan
kepalanya.
“Dia yang
kau maksud ini adalah seorang pria?” Tanyaku yang langsung membuat Tao
mengangkat kepalanya untuk memandang kearahku dan tak lama dia menundukkan
kepalanya lagi sembari mengangguk perlahan.
“Hoo, baik
lah. Lanjutkan ceritamu.” Aku mencoba memasang wajah yang normal-normal saja.
“Tidak
terkesan anehkah untukmu?” Tanya dia kepada ku. Aku hanya menggelengkan kepala
dan tersenyum padanya lalu mengusap kepalanya.
“Lanjutkan
saja.” Kataku sembari meminum kopi yang baru saja aku pesan.
Tao menarik
napas panjang lalu melanjutkan ceritanya.
“Terlebih di
tempat kerjanya sekarang dia selalu saja di kelilingi dengan banyak wanita. Dan
dia melarangku untuk bekerja. Bahkan aku tidak bisa keluar sesuka hatiku. Entah
mengapa dia bersikap begitu padaku. Seakan aku tidak boleh mengenal dunia luar.
Apa mungkin dia takut aku menceritakan tetang hubungan ku dengannya ke orang
lain? Bahkan dia tidak pernah memperkenalkan pada teman-temannya.” Matanya
menerawang jauh kearah jalanan. Lalu meminum kopi yang dia pesan.
“Bahkan
sejujurnya dia tidak pernah tau kalau aku sering datang ke gereja ini. Biasanya
aku hanya mengatakan ingin menghirup udara segar dan membeli beberapa
perlengkapan rumah atau baju baru. Itu pun terkadang dia tidak mengizinkan aku
pergi. Entah mengapa dia begitu padaku, aku berpikir mungkin itu salah satu
sikap protektifnya, tapi semakin lama yang kurasakan bukan itu. Dia pun tidak
pernah mengajakku pergi berdua dengannya. Hampir bisa dihitung dia makan
bersamaku dirumah saat makan malam. Padahal kami hanya bertemu saat malam
hari.” Matanya melihat kopi yang dia pesan.
Aku
menggenggam tangannya dan berkata.
“Mungkin aku memang tidak bisa membantu banyak untuk
masalahmu ini, tapi aku bisa jadi temanmu dari sekarang. Kau bisa berbagi
cerita dengan ku. Aku bisa menemanimu pergi kemana pun, untuk sekedar membeli
baju bari atau hanya sekedar menghirup udara segar. Atau mungkin kau bisa
mampir kesini saat makan malam. Kita bisa makan bertiga dengan ayahku. Pasti
mengasikkan.” Aku memberikan senyum menyemangati dan mencoba menyampaikan bahwa
dia tidak akan sendiri mulai dari sekarang.
Setelah
banyak berbicara dengan Tao di kafe tadi, kami banyak menceritakan apa yang
kami sukai atau pun yang tidak kami sukai. Aku banyak bercerita soal masa lalu
ku sebelum diangkat menjadi anak angkat pendeta Sooman. Tao juga bercerita
tetang hidupnya selama tinggal bersama pasangannya. Begitu banyak cerita yang
kami bagi sampai hari sudah senja. Aku menawarkan untuk mengantarnya pulang
tapi sepertinya dia takut akan ketahuan kalau sekarang dia memiliki teman.
Akhirnya dia pulang sendiri tapi tanpa dia ketahui aku mengikutinya dari
belakang. Aku mengikutinya sampai disebuah apartemen yang sangat besar. Saat
sampai diapartemen jam menunjukan pukul 8 malam. Tao tidak langsung masuk
tetapi berdiri didepan pintu masuk apartemen tersebut, aku memperhatikan dia
cukup lama dari kejauhan sampai akhirnya seseorang menghampirinya, orang itu
tinggi dan berkulit putih, terlihat jalannya tergopoh-gopoh tak keruan. Tao
langsung menangkapnya begitu dia hampir terjatuh, sesaat pria itu berdiri tegak
tersenyum sinis kearah Tao dan tak lama mendaratkan ciuman singkat dibibir Tao.
Aku yang melihat itu hanya mampu diam dan tak lama mereka masuk ke apartemen.
Kulihat sepintas Tao tersenyum begitu bahagianya.
Aku pulang
dengan perasaan yang tidak terdefinisikan. Sesampainya di rumah, aku melihat
hpku dan disana tertera pesan singkat yang datangnya dari Tao.
“Terima
kasih untuk hari ini, Kai. Aku senang mengenalmu. Aku sangat menikmati hari
ini. Bahkan hari ini dia juga melakukan sesuatu yang sudah lama tak pernah dia
lakukan denganku. Yaah… memang dia sedikit mabuk. Tapi aku menyukainya. Oh ya,
lain kali kita bertemu lagi ya.”
Aku hanya
tersenyum miris. Lalu melanjutkan perjalananku ke rumah.
Waktu terus
berlalu, Tao sering mengirim kan aku pesan tentang rasa bahagianya atau
perasaannya yang sedih dengan sikap pasangannya. Entah aku patut senang dengan
kabarnya baiknya atau malah sebaliknya dan aku pun selalu memberikan beberapa
nasehat tetang hubungannya.
Minggu ini
kami berencana ingin bertemu. Tao mengirimkan pesan, dia mengatakan bahwa
pasangannya sempat berbuat kasar padanya, dan dia butuh tempat untuk bercerita.
Aku membalas pesannya dan mengatakan kalau minggu ini aku bisa menemaninya
sembari membeli beberapa baju untuk musim dingin. Dia membalas, dengan
mengatakan senang memiliki teman sepertiku. Aku tersenyum melihat pesan itu,
walau aku ingin mengatakan kalau sekarang aku mulai menyukainya.
Hari ini
adalah hari dimana aku sudah menbuat janji dengan Tao. Aku mempersiapkan
pakaian terbaikku. Bahkan aku datang satu jam lebih cepat. Tadi pagi Tao
mengirim kan pesan untuk makan siang dia akan membawakan makanan.
Sudah lewat
dari waktu kami janjian tapi dia tak kunjung datang. Aku menunggu di kafe
tempat kami berbagi cerita pertama kali, dan ini sudah cokelat panas kedua yang
aku habiskan. Ku lihat kearah jam tangan ku. Sekarang sudah lewat 2 jam dari
waktu kami janjian. Aku melihat kearah ponselku tak ada pesan. Aku mengirimkan
pesan kepadanya satu jam lalu tapi belum ada balasan darinya. Dalam pikiranku
mungkin dia ada halangan sehingga dia datang terlambat. Aku menunggunya lagi
sembari memesan cokelat panas lagi.
Sekarang aku
melihat kearah jam tanganku, dan sudah lewat 4 jam dari waktu kami janjian. Tak
lama ada pesan singkat dari Tao. Aku buru-buru membukanya.
“Kai,
maafkan aku tidak bisa kesana. Mungkin lain waktu kita bisa pergi berdua. Dia
mengajakku untuk mencari baju untuk musim dingin dan mengatakan akan makan
siang dan malam diluar bersamaku. Aku sangat senang.”
Entah apa
aku harus marah atau senang saat membaca pesan itu.
Setiap saat
aku dan Tao selalu berbagi pesan singkat. Dia selalu member kabar… ya… tidak
jauh dari perkembangan hubungannya dengan pasangannya. Dia terlihat sangat
menikmati setiap cerita yang dia ceritakan kepadaku, mulai dari perasaannya
yang senang mau pun sedih atau marah. Aku berusaha membalasnya sebagai
pendengar yang baik.
Beberapa
kali aku sengaja tidak membalas pesannya. Yang aku senang terlihat sekali kalau
dia membutuhkan aku untuk bercerita, karena setiap kali aku tidak membalas
pesannya, dia selalu mengirimi aku pesan berkali-kali entah itu menanyakan
apakah aku sedang sibuk hingga aku tidak membalas pesannya, atau pun bertanya
apakah aku sudah tidur.
Setidaknya
aku merasa dia membutuhkan aku.
Sampai suatu
ketika dia mengajakku untuk bertemu, katanya dia ingin menghirup udara segar
karena hampir 2 minggu tidak keluar dari apartemennya. Aku seperti biasanya.
Berkata iya. Semoga saja kali ini nasib baik berpihak padaku.
Aku
menunggunya di kafe. Sudah hampir setengah jam tapi tidak juga ada kabar.
Apakah akan sama seperti waktu itu? Aku hanya bisa menunggu.
Perasaanku
mulai cemas dan tidak keruan saat jam menunjukkan bahwa aku sudah satu jam
disini dan tidak ada perkembangan apa pun. Aku berdiri dan menghirup udara
dingin di sekitarku. Sampai seseorang menepuk bahuku.
“Kai? Lama
menungguku, ya?” saat aku berbalik wajahnya terlihat cemas. Aku berusaha
tersenyum wajar kearahnya dan menggelengkan kepala. Dia membalas senyumku dan memberikan aku
sekaleng kopi panas. Aku mengambilnya dan lalu meminumnya.
“Ayo kita
jalan-jalan.” Katanya sembari menarik tanganku. Aku mengikutinya. Perasaanku…
entah mengapa sangat bahagia.
Setelah
hampir setengah jam kami berjalan di taman. Kami memutuskan untuk mencari
cemilan dan mencari tempat duduk di dekat danau. Saat itu daerah danau itu
hanya sedikit orang yang berkeliling di sekitar situ. Kami duduk di tepi danau sembari memakan
cemilan yang kami beli dan juga meminum
minuman hangat.
Mataku sulit
untuk tidak menatap kearah Tao, saat ku lihat kearahnya, dia sedang menerawang
jauh ke arah danau.
“Ada apa?”
Tanyaku padanya. Dia melihatku dan hanya menggelengkan kepalanya. Lalu
tiba-tiba dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku mencoba menenangkan diriku
sendiri.
“Hem…
semenjak mengenal kau. Entah mengapa aku berharap mempunyai pasangan sepertimu,
Kai.” Tao menghela napas panjang lalu tersenyum dengan damainya. Saat itu aku
berpikir apakah mungkin ada kesempatan untukku menggantikn posisi pasangan Tao.
Lalu Tao merangkul tanganku.
“Seandainya
dia bisa sepertimu, pasti aku akan jauh lebih bahagia sekarang.” Suasana hati
ku langsung menjadi muram mendengar itu. Sebenarnya siapa yang dia bayangkan?
Sebenarnya dia sedang bersandar kepada siapa?
“Omyohan geudaeui moseube neogseul
noko hanappunin yeonghoneul ppaetgigo~”
Suara ponsel
membuat Tao langsung berdiri dan mengangkat telpon yang aku tak tau dari siapa
itu. Kudengarkan apa yang dikatakan Tao.
“Ada apa,
Hyung? Aku sedang jalan-jalan diluar sebentar.” Mungkin kah dari pasangannya?
Pikirku.
“Iya maaf
kan aku karena tidak memberitahu padamu.” Yah sudah pasti itu dari pasangannya
itu, terlihat dari wajah Tao yang sangat bersalah.
“Oh! Benar
kah? Kapan?” Wajahnya berubah berseri-seri sekarang. Pasti kabar buruk untukku.
“Baiklah aku
langsung pulang sekarang!” Yah benarkan kabar buruk untukku. Tao mematikan
ponselnya lalu melihat kearahku dengan wajah yang begitu bahagia.
“Ada apa?”
Kataku padanya yang juga sedang berusaha tersenyum sebaik mungkin.
“Dia
mengajakku makan malam di luar malam ini!” Tao meraih tanganku lalu memelukku.
Aku membalas pelukkannya.
“Bagus lah
bila begitu. Jadi kau mau pulang sekarang?” Aku melepaskan pelukannya dan
memasang wajah sebahagia yang ku bisa.
“Iya! Aku
rasa lebih baik aku bergegas karena dia juga sedang berjalan dari tempat
kerjanya. Bye, Kai.” Dia berlari sembari melambaikan tangannya padaku. Aku
membalas lambaian tangannya sembari melihatnya yang berlalu bersama dengan
salju yang juga turun ke tanah dan juga hatiku.
Hampir
sebulan berlalu semenjak pertemuan kami waktu itu. Melihat dari pesan yang
dikirimkan oleh Tao kurasa dia mulai menemukan kebahagiaannya bersama
pasangannya hingga suatu malam ponsel ku berbunyi pertanda ada pesan. Aku
melihat ke arah layar ponselku. Pesan itu dari Tao.
“Kai, dia
mengajakku untuk pindah apartemen, ke tempat yang jauh lebih baik lagi katanya.
Aku sangat senang sekarang dia mulai perhatian denganku dan juga mulai sering
mengajakku untuk jalan-jalan keluar. Akhirnya aku tidak sendirian lagi
sekarang.”
Aku melempar
ponselku agar jauh dariku. Mungkin memang selama ini aku bukan apa-apa untuk
Tao.
Aku
memutuskan untuk tinggal sendiri di sebuah apartemen. Ayahku mengizinkan saja,
lagi pula katanya aku sudah cukup dewasa untuk tinggal sendiri. Sudah sekitar
dua minggu aku tidak membalas pesan Tao semenjak terakhir dia memberi tahu
dimana dia akan pindah.
Beberapa
kali dia mengirimkan pesan untukku yang isinya tetap sama tentang hari-hari
bahagia nya bersama dengan pasangannya. Mungkin menurutnya walau aku tidak pernah membalas pesannya lagi,
setidaknya dia masih bisa menjadikan nomor ponselku sebagai buku harian
rahasianya.
Sejujurnya
perasaanku sangat tidak keruan setiap kali membaca pesannya ada emosi yang
meledak namun selau teredam entah mengapa. Sampai sebuah pesan dari Tao yang
mengatakan bahwa….
“Hai, Kai.
Semoga kau selalu baik-baik ya. Hari ini aku sangat senang karena dia mengajakku
untuk membuat hubungan yang jauh lebih serius lagi. Dia akan mengajakku ke
Negara yang bisa melegalkan kami dan meresmikan hubungan kami. Ini sangat
membuatku bahagia, bukan begitu? Semua saranmu juga sangat membantuku. Mungkin
ini yang kuinginkan selama ini. Kami berangkat seminggu lagi.”
Entah
mengapa napas kutercekat dan sangat sulit bernapas wajar.
Dua hari
kemudian….
Malam ini
aku menyiapkan yang mungkin tidak pernah aku pikirkan semenjak aku mengetahui
alamat Tao yang baru. Aku turun ke naik satu lantai di atas apartemenku. Disana
terdapat sebuah kamar, aku membukanya, karena aku tau dari semenjak aku pindah
kesini bahwa kamar ini tidak pernah di kunci oleh pemiliknya. Yah mungkin
mereka berpikir karena ini apartemen yang cukup memiliki privasi dan keamanan
tapi siapa yang tahu. Lagi pula aku tahu siapa yang ada disini.
Napas ku
memburu, perasaanku terbakar ketika aku melihat seorang pria berada tepat di
atas tubuh Tao, mereka hampir tidak memakai pakaian selehai pun pada tubuh
mereka. Sempat sekilas aku melihat wajah bahagia Tao. Itu membuatku semakin
terbakar.
Dengan cepat
aku berlari kearah pria itu dan menebas lehernya dengan sabit yang aku bawa,
tubuhnya terjatuh dengan darah yang berlumuran ditubuhnya kulihat sabitku masih
menggantung di lehernya yang hanya separuhnya saja yang terpotong. Badannya
terseok-seok ke arah tembok seberang tempat tidur yang masih ada Tao yang
Nampak ketakutan melihatku.
Aku
merasakan semua urat wajahku tertarik ke atas. Melihat ke arah Tao yang melihat
ke arahku lalu ke arah pria itu. Lalu dia berteriak begitu keras.
“KRIIIIIS!!
“ Kearah pria itu, dan mencoba melompat ke arah pria itu tapi aku menahannya
dan mendorongnya kembali ke atas tempat tidur lalu memberi ciuman singkat ke
bibirnya. Tao menamparku.
“KAU GILA,
KAI!! APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA! KAU TAHU AKU SANGAT MENCINTAINYA!!” kata
Tao sembari berontak untuk lari ke arah pria itu. Tapi aku tidak membiarkannya.
“AKU JUGA
MENCINTAIMU BAHKAN LEBIH DARI DIA YANG DULU SERING MENYAKITIMU!! TIDAKKAH KAU
SADARI ITU?!” Kataku yang menggenggam erat kedua bahu Tao dengan kedua
tanganku. Tao sedikit terkejut namun aku melihat emosi lain di wajahnya.
“KAU GILA,
KAI! KAU GILA! AKU TIDAK MENGANGGAPMU BERARTI! TIDAK MENGANGGAPMU SEBAGAI
SESUATU HAL YANG BERARTI SEPERTI KRIS!” Emosiku memuncak mendengar kata-kata
Tao. Tanganku reflek mengeluarkan pisau yang ada di kantong celanaku. Lalu
menusuknya berkali-kali ke perut Tao.
“AKU SELALU
MEMPERHATIKANMU….” Tanganku masih menusukkan pisau itu ke perut Tao.
“Ta-o…”
Suara pria itu terdengar merintih setiap kali aku menusukkan pisau ke perut
Tao.
“AKU SELALU
BERUSAHA ADA UNTUKMU….” Kurasakan sendiri tusukan kusemakin dalam ke perut Tao.
Lalu kulempar pisau itu jauh-jauh. Kulihat sprai tempat tidur yang tadinya
berwarna putih sekarang memerah. Lalu aku mengangkat tubuh Tao keluar dari
ruangan itu.
Tiga bulan
kemudian….
“Sekarang
kita berdua disini. Ditempat yang tidak ada seorang pun yang mengenal kita. Kau
bahagiakan, Tao?” Kataku kepada Tao yang tertidur diatas tempat tidur.
“Tubuhmu
semakin mendingin, mungkin lebih baik aku membelikan selimut baru untukmu.”
Tanganku meraih tangan Tao yang kaku dan dingin. Tak apa, walau jantungnya
sudah tidak berdetak seperti dulu, setidaknya sekarang dia hanya milikku dan
selalu ada bersamaku.
END
No comments:
Post a Comment