Friday, 3 January 2014

Special Request (Park YoungNa) - Mine


“kau yang katakan padaku bahwa hidup adalah pilihan. Aku memilihmu. Walau aku tau sampai kapan pun kau tidak memilihku… tapi setidaknya kita bersama sekarang.”



hujan deras turun tepat ketika aku melihat seorang pria yang hampir tiga tahun ini datang ke gereja tempat aku tinggal bersama ayah angkatku. Sejak tiga tahun lalu aku melihatnya terkadang menangis didepan altar atau terkadang wajahnya terlihat mengucap rasa syukurnya kepada tuhan. Entah apa yang membuat ku selalu memperhatikan nya. Mungkin aku merasa dia baik, ah… bukan itu, ya kuakui dia memang baik karena dibandingkan beberapa jemaat disini, dia yang selalu memberi santunan atau pun hanya sekedar bantuan kepada gereja ini. Gereja ini juga termasuk gereja yang cukup tua dan jemaatnya pun hanya sedikit. Yah… mau bagaimana lagi, gereja ini juga berapa di daerah terpencil di Seoul.
Kembali pada seorang pria ini, hari ini pun aku melihatnya menangis di depan altar, sebenarnya sudah hampir 2 tahun terakhir ini aku menguping apa yang dia ceritakan pada tuhan. Kurasa dia sedang memiliki masalah dengan pacarnya. Semakin lama aku mendengar ceritanya terkadang aku hanyut dalam ceritanya dan ikut merasakan apa yang dia rasakan, terdengar berlebihan tapi mungkin aku mulai menyukai pria ini. Setiap kali mendengar isak tangisnya ingin sekali aku menghampirinya lalu memeluknya. Ya aku mengingat namanya Hwang Zi Tao. Ayahku biasa memanggilnya Tao.
Hari ini isak tangisnya lebih dalam dari biasanya,
“Tuhan, kau yang mengirimnya untuk menjagaku. Buat lah itu menjadi selamanya, aku selalu mengingat janjinya tapi mengapa dia selalu meninggalkanku? Dia selalu membuatku menunggu lama dirumah dan selalu saja kulihat fotonya besama dengan seorang wanita. Apa yang salah dengan hubungan kami? Aku mencintainya, tuhan.”
Yang kurasakan selalu rasa sakit setiap kali dia menyebut kata nya atau dia, tapi apa hak ku? Kami saja belum saling mengenal. Aku melangkah perlahan dari belakang papan dekat altar yang biasa dia menumpahkan keluh kesahnya. Tanpa kusadari dibelakang ku ada papan lain, kakiku menyentuh papan itu dan seketika suara gaduh memenuhi gereja.
“BRAAAAAK!” papan itu jatuh kudengar seseorang berlari kearahku dan papan itu. Suaranya begitu familiar.
“Kau tidak apa-apa?” Kata Tao sembari memegang bahuku. Aku terkejut dan sontak menyingkir darinya.
“tidak, aku hanya sedikit kaget.” Kataku padanya sembari menundukan wajahku.
Bodohnya aku, pikirku dalam hati. Ini pertama kalinya aku berbicara dengannya dan aku merasa sangat gugup.
“Hem… kau bukannya anak angkat pendeta Sooman? Kai, ya?” kata Tao sembari tersenyum kearahku. Matanya begitu lembut menatap kearah mataku dan sedikit perasaan sedih terukir dimatanya.
“Hei hei? Kau Kai, kan?” Tanya nya kembali sembari memetikkan jarinya didepan mataku.
“Eh…i-i-iya itu benar.” Suaraku terdengar gugup.
“Aku Tao, salah satu jemaat disini. Senang mengenalmu.” Suaranya terdengar begitu ringan. Tangannya meraih tanganku lalu menjabatnya. Tangannya begitu halus dan ringan. Tak lama dia melepaskan tangannya dariku.
“Sedang apa kau disini?” Tanya nya padaku. Sementara aku masih saja menundukkan kepala karena tidak sanggup melihat wajahnya. Mungkin sekarang dia sedang menatapku bingung.
“Aku tadi hanya kebetulan lewat dan mendengar suara seseorang sedang menangis--” Kata-kata itu tiba-tiba terlontar begitu saja lalu aku langsung menutup mulutku. Aku melirik kearahnya, entah mengapa dia menatapku dengan mata yang memohon pertolongan. Melihat tatapannya yang seperti itu membuat aku melanjutkan kata-kataku…
“Ternyata memang ada seseorang disini. Maaf bila aku menginterupsi aduanmu terhadap tuhan, tapi jika kau mau aku bisa jadi teman mu berbagi cerita.” Kataku sembari mencoba tersenyum wajar kearahnya.
Dia tersenyum kearahku dan berkata. “Terima kasih, Kai. Ternyata benar, anak pendeta Sooman baik dan sangat perhatian.” Lalu dia melihat kearah jam tangannya. “Hem, aku harus pergi. Mungkin lain kali aku berkunjung kesini, kita bisa berbagi cerita dan jadi teman baik.” Tao berlari kecil menjauhiku sembari melambaikan tangannya. Hari ini adalah hari baikku.

“Ayah, aku ingin bertanya.” Kataku pada ayahku yang sedang membereskan rak-rak di perpustakaan kecil gereja.
“Ada apa nak?” Kata ayahku yang masih saja sibuk dengan tumpukan buku dan debu.
“Apakah ayah sudah lama mengenal Tao?” Kataku yang mulai membantu ayahku di perpustakaan itu. Pikiran ku terkadang mengawang-awang saat hari kemarin ketika aku berbicara dengan Tao.
Kulihat ayahku sejenak menghentikan aktivitasnya lalu melirikku sebentar dan melanjutkan pekerjaannya lagi sembari menjawab pertanyaanku.
“Kau sudah berbicara dengannya ya? Dan ayah rasa kau punya rasa simpati kepadanya karena dia sering menangis di depan altar, bukan begitu?” aku hanya menganggukkan kepalaku, lalu ayahku melanjutkan.
“Dulu ayah Tao adalah salah satu jemaat yang paling sering datang bahkan sering sekali membantu membereskan gereja, dulu dia dan istrinya juga menikah disini. Ayah sangat mengenal baik orang tuanya sampai akhirnya orang tuanya meninggal 5 tahun lalu. Setahu ayah setelah itu Tao hidup bersama seorang pria, entah siapa. Menurut beberapa orang yang dulu juga mengenal ayahnya, pria itu adalah teman sepermainan Tao ketika dia masih kecil. Dan pria itu yang sering dia tangisi di depan altar, nak. Untuk itu setiap kali Tao berada disini ayah selalu menutup gereja sampai dia pulang agar dia bisa bercerita sesuka hatinya. Itu perwujudan rasa terima kasih ayah kepada ayahnya Tao.” Ayahku menceritakan itu sembari terkadang menghela napas panjang.
Aku hanya menganggukkan kepalaku lagi. Lalu ayahku mengusap kepalaku dan berkata…
“Mungkin ada baiknya kau berteman dengannya dan mendekatkannya pada tuhan, nak. Setidaknya umur kalian tidak terlalu jauh. Lagi pula kalian sepertinya bisa menjadi teman baik.” Dalam hatiku berkata. Mendekatkannya pada tuhan? Yang ku yakini adalah bahwa tuhan bahkan malah mengutukku karena perasaan ku pada Tao sekarang bukan hanya ingin menjadi teman dekatnya.



Beberapa hari setelahnya Tao datang kembali ke Gereja. Saat itu aku sedang menyapu halaman Gereja. Langkah kakinya yang berhenti mendadak di hadapanku membuatku menghentikan aktivitasku.
“Haaai, Kai. Maaf mengganggu pekerjaanmu. Bagaimana kabarmu?” Kata Tao sembari menepuk-nepuk bahuku.
“A-a-aku baik. Tidak, kau tidak menggangguku. Aku hanya sedang iseng karena tadi melihat banyak daun kering. Bagaimana denganmu?” Jawabku sembari merapihkan baju yang aku kenakan.
“Aku juga baik. Kau sibuk tidak hari ini? Aku ingin mengajakmu minum kopi di kafe kecil dekat sini. Mungkin kita bisa berbagi cerita disana.” Tao mengatakan itu sembari tersenyum kearahku.
“Sepertinya aku bisa, tapi tidak apa kan bila kau menunggu ku membereskan halaman ini dulu?” Kataku yang kembali mencoba tersenyum wajar didepannya. Dia hanya membalas pertanyaanku dengan anggukan cepat. Lalu dia berlari ke dekat gerbang dan duduk di bawah pohon cemara besar sembari memasangkan headphone di telinganya.
Aku segera membereskan pekerjaanku secepat mungkin lalu masuk kembali ke gereka untuk mengganti pakaianku. Karena sehari-harinya aku di salam gereja harus memakai pakaian pendeta seperti ayahku. Selepas aku mengganti baju, aku berlari keruangan ayahku.
“Ayah, aku ingin keluar sebentar bersama dengan Tao, apakah boleh?” Ayahku yang sedang membaca buku melihatku lalu tersenyum.
“Silahkan saja, nak. Ingat tugasmu. Dekatkan lah dia dengan tuhan.” Aku hanya mengangguk ragu lalu pergi meninggalkan ayahku.
Saat aku kelar dari pintu gereja, dan disana aku melihat Tao yang tetap diposisi dan tempat yang sama hanya saja matanya terlihat basah karena air matanya kembali turun. Aku langsung berlari kearahnya dan memeluknya. Aku merasa dia sedikit kaget tapi tak lama dia membalas pelukanku lalu menangis dengan sedihnya.

Kami sampai di kafe kecil dekat gereja dan memesan dua kopi dan beberapa makanan ringan. Ujung bawah kaos yang ku kenakan terlihat basah. Tao hampir menangis lebih dari 30 menit, untung saja daerah gereja kami terhitung sepi jadi dia bisa menangis sesuka hatinya.
“Kau sudah siap menceritakan seuatu denganku sekarang?” Kataku sembari mengelaukan sapu tangan dan memberikannya pada Tao. Dia mengambilnya dan mengusapkannya ke kedua matanya lalu menganggukkan kepalanya. Tak lama dia menghela napas panjang.
“Aku memiliki… sebut saja dia pasanganku.” Yaa aku tau, ucapku dalam hati. “Kami sudah lebih dari delapan tahun memiliki hubungan khusus, terlebih saat orang tuaku meninggal lima tahun lalu. Dulu kami teman sepermainan dan mungkin memang hanya dia yang mau bermain denganku. Waktu kecil banyak yang bilang aku aneh, dan hanya dia yang membelaku dan mau menemaniku bermain. Aku sangat menyayanginya. Dan aku berharap dia pun begitu—“
“Kau berharap? Memangnya dia tidak?” Kataku memotong ceritanya. Tao hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan.
“Dia mengatakan dia menyayangiku, terlebih dia berjanji akan menjagaku setelah orang tua ku meninggal, tapi entah mengapa yang kurasakan sekarang hanya lah dia yang mempunyai beban tugas untuk menjagaku. Dan tidak menyayangiku apa lagi mencintaiku.” Tao menundukkan kepalanya.
“Boleh aku bertanya?” Kataku, yang tak lama pesanan kami datang. Tao hanya menganggukkan kepalanya.
“Dia yang kau maksud ini adalah seorang pria?” Tanyaku yang langsung membuat Tao mengangkat kepalanya untuk memandang kearahku dan tak lama dia menundukkan kepalanya lagi sembari mengangguk perlahan.
“Hoo, baik lah. Lanjutkan ceritamu.” Aku mencoba memasang wajah yang normal-normal saja.
“Tidak terkesan anehkah untukmu?” Tanya dia kepada ku. Aku hanya menggelengkan kepala dan tersenyum padanya lalu mengusap kepalanya.
“Lanjutkan saja.” Kataku sembari meminum kopi yang baru saja aku pesan.
Tao menarik napas panjang lalu melanjutkan ceritanya.
“Terlebih di tempat kerjanya sekarang dia selalu saja di kelilingi dengan banyak wanita. Dan dia melarangku untuk bekerja. Bahkan aku tidak bisa keluar sesuka hatiku. Entah mengapa dia bersikap begitu padaku. Seakan aku tidak boleh mengenal dunia luar. Apa mungkin dia takut aku menceritakan tetang hubungan ku dengannya ke orang lain? Bahkan dia tidak pernah memperkenalkan pada teman-temannya.” Matanya menerawang jauh kearah jalanan. Lalu meminum kopi yang dia pesan.
“Bahkan sejujurnya dia tidak pernah tau kalau aku sering datang ke gereja ini. Biasanya aku hanya mengatakan ingin menghirup udara segar dan membeli beberapa perlengkapan rumah atau baju baru. Itu pun terkadang dia tidak mengizinkan aku pergi. Entah mengapa dia begitu padaku, aku berpikir mungkin itu salah satu sikap protektifnya, tapi semakin lama yang kurasakan bukan itu. Dia pun tidak pernah mengajakku pergi berdua dengannya. Hampir bisa dihitung dia makan bersamaku dirumah saat makan malam. Padahal kami hanya bertemu saat malam hari.” Matanya melihat kopi yang dia pesan.
Aku menggenggam tangannya dan berkata.
“Mungkin aku memang tidak bisa membantu banyak untuk masalahmu ini, tapi aku bisa jadi temanmu dari sekarang. Kau bisa berbagi cerita dengan ku. Aku bisa menemanimu pergi kemana pun, untuk sekedar membeli baju bari atau hanya sekedar menghirup udara segar. Atau mungkin kau bisa mampir kesini saat makan malam. Kita bisa makan bertiga dengan ayahku. Pasti mengasikkan.” Aku memberikan senyum menyemangati dan mencoba menyampaikan bahwa dia tidak akan sendiri mulai dari sekarang.
Setelah banyak berbicara dengan Tao di kafe tadi, kami banyak menceritakan apa yang kami sukai atau pun yang tidak kami sukai. Aku banyak bercerita soal masa lalu ku sebelum diangkat menjadi anak angkat pendeta Sooman. Tao juga bercerita tetang hidupnya selama tinggal bersama pasangannya. Begitu banyak cerita yang kami bagi sampai hari sudah senja. Aku menawarkan untuk mengantarnya pulang tapi sepertinya dia takut akan ketahuan kalau sekarang dia memiliki teman. Akhirnya dia pulang sendiri tapi tanpa dia ketahui aku mengikutinya dari belakang. Aku mengikutinya sampai disebuah apartemen yang sangat besar. Saat sampai diapartemen jam menunjukan pukul 8 malam. Tao tidak langsung masuk tetapi berdiri didepan pintu masuk apartemen tersebut, aku memperhatikan dia cukup lama dari kejauhan sampai akhirnya seseorang menghampirinya, orang itu tinggi dan berkulit putih, terlihat jalannya tergopoh-gopoh tak keruan. Tao langsung menangkapnya begitu dia hampir terjatuh, sesaat pria itu berdiri tegak tersenyum sinis kearah Tao dan tak lama mendaratkan ciuman singkat dibibir Tao. Aku yang melihat itu hanya mampu diam dan tak lama mereka masuk ke apartemen. Kulihat sepintas Tao tersenyum begitu bahagianya.
Aku pulang dengan perasaan yang tidak terdefinisikan. Sesampainya di rumah, aku melihat hpku dan disana tertera pesan singkat yang datangnya dari Tao.
“Terima kasih untuk hari ini, Kai. Aku senang mengenalmu. Aku sangat menikmati hari ini. Bahkan hari ini dia juga melakukan sesuatu yang sudah lama tak pernah dia lakukan denganku. Yaah… memang dia sedikit mabuk. Tapi aku menyukainya. Oh ya, lain kali kita bertemu lagi ya.”
Aku hanya tersenyum miris. Lalu melanjutkan perjalananku ke rumah.


Waktu terus berlalu, Tao sering mengirim kan aku pesan tentang rasa bahagianya atau perasaannya yang sedih dengan sikap pasangannya. Entah aku patut senang dengan kabarnya baiknya atau malah sebaliknya dan aku pun selalu memberikan beberapa nasehat tetang hubungannya.
Minggu ini kami berencana ingin bertemu. Tao mengirimkan pesan, dia mengatakan bahwa pasangannya sempat berbuat kasar padanya, dan dia butuh tempat untuk bercerita. Aku membalas pesannya dan mengatakan kalau minggu ini aku bisa menemaninya sembari membeli beberapa baju untuk musim dingin. Dia membalas, dengan mengatakan senang memiliki teman sepertiku. Aku tersenyum melihat pesan itu, walau aku ingin mengatakan kalau sekarang aku mulai menyukainya.


Hari ini adalah hari dimana aku sudah menbuat janji dengan Tao. Aku mempersiapkan pakaian terbaikku. Bahkan aku datang satu jam lebih cepat. Tadi pagi Tao mengirim kan pesan untuk makan siang dia akan membawakan makanan.
Sudah lewat dari waktu kami janjian tapi dia tak kunjung datang. Aku menunggu di kafe tempat kami berbagi cerita pertama kali, dan ini sudah cokelat panas kedua yang aku habiskan. Ku lihat kearah jam tangan ku. Sekarang sudah lewat 2 jam dari waktu kami janjian. Aku melihat kearah ponselku tak ada pesan. Aku mengirimkan pesan kepadanya satu jam lalu tapi belum ada balasan darinya. Dalam pikiranku mungkin dia ada halangan sehingga dia datang terlambat. Aku menunggunya lagi sembari memesan cokelat panas lagi.
Sekarang aku melihat kearah jam tanganku, dan sudah lewat 4 jam dari waktu kami janjian. Tak lama ada pesan singkat dari Tao. Aku buru-buru membukanya.
“Kai, maafkan aku tidak bisa kesana. Mungkin lain waktu kita bisa pergi berdua. Dia mengajakku untuk mencari baju untuk musim dingin dan mengatakan akan makan siang dan malam diluar bersamaku. Aku sangat senang.”
Entah apa aku harus marah atau senang saat membaca pesan itu.


Setiap saat aku dan Tao selalu berbagi pesan singkat. Dia selalu member kabar… ya… tidak jauh dari perkembangan hubungannya dengan pasangannya. Dia terlihat sangat menikmati setiap cerita yang dia ceritakan kepadaku, mulai dari perasaannya yang senang mau pun sedih atau marah. Aku berusaha membalasnya sebagai pendengar yang baik.
Beberapa kali aku sengaja tidak membalas pesannya. Yang aku senang terlihat sekali kalau dia membutuhkan aku untuk bercerita, karena setiap kali aku tidak membalas pesannya, dia selalu mengirimi aku pesan berkali-kali entah itu menanyakan apakah aku sedang sibuk hingga aku tidak membalas pesannya, atau pun bertanya apakah aku sudah tidur.
Setidaknya aku merasa dia membutuhkan aku.
Sampai suatu ketika dia mengajakku untuk bertemu, katanya dia ingin menghirup udara segar karena hampir 2 minggu tidak keluar dari apartemennya. Aku seperti biasanya. Berkata iya. Semoga saja kali ini nasib baik berpihak padaku.


Aku menunggunya di kafe. Sudah hampir setengah jam tapi tidak juga ada kabar. Apakah akan sama seperti waktu itu? Aku hanya bisa menunggu.
Perasaanku mulai cemas dan tidak keruan saat jam menunjukkan bahwa aku sudah satu jam disini dan tidak ada perkembangan apa pun. Aku berdiri dan menghirup udara dingin di sekitarku. Sampai seseorang menepuk bahuku.
“Kai? Lama menungguku, ya?” saat aku berbalik wajahnya terlihat cemas. Aku berusaha tersenyum wajar kearahnya dan menggelengkan kepala.  Dia membalas senyumku dan memberikan aku sekaleng kopi panas. Aku mengambilnya dan lalu meminumnya.
“Ayo kita jalan-jalan.” Katanya sembari menarik tanganku. Aku mengikutinya. Perasaanku… entah mengapa sangat bahagia.


Setelah hampir setengah jam kami berjalan di taman. Kami memutuskan untuk mencari cemilan dan mencari tempat duduk di dekat danau. Saat itu daerah danau itu hanya sedikit orang yang berkeliling di sekitar situ.  Kami duduk di tepi danau sembari memakan cemilan  yang kami beli dan juga meminum minuman hangat.
Mataku sulit untuk tidak menatap kearah Tao, saat ku lihat kearahnya, dia sedang menerawang jauh ke arah danau.
“Ada apa?” Tanyaku padanya. Dia melihatku dan hanya menggelengkan kepalanya. Lalu tiba-tiba dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Aku mencoba menenangkan diriku sendiri.
“Hem… semenjak mengenal kau. Entah mengapa aku berharap mempunyai pasangan sepertimu, Kai.” Tao menghela napas panjang lalu tersenyum dengan damainya. Saat itu aku berpikir apakah mungkin ada kesempatan untukku menggantikn posisi pasangan Tao. Lalu Tao merangkul tanganku.
“Seandainya dia bisa sepertimu, pasti aku akan jauh lebih bahagia sekarang.” Suasana hati ku langsung menjadi muram mendengar itu. Sebenarnya siapa yang dia bayangkan? Sebenarnya dia sedang bersandar kepada siapa?
“Omyohan geudaeui moseube neogseul noko hanappunin yeonghoneul ppaetgigo~”
Suara ponsel membuat Tao langsung berdiri dan mengangkat telpon yang aku tak tau dari siapa itu. Kudengarkan apa yang dikatakan Tao.
“Ada apa, Hyung? Aku sedang jalan-jalan diluar sebentar.” Mungkin kah dari pasangannya? Pikirku.
“Iya maaf kan aku karena tidak memberitahu padamu.” Yah sudah pasti itu dari pasangannya itu, terlihat dari wajah Tao yang sangat bersalah.
“Oh! Benar kah? Kapan?” Wajahnya berubah berseri-seri sekarang. Pasti kabar buruk untukku.
“Baiklah aku langsung pulang sekarang!” Yah benarkan kabar buruk untukku. Tao mematikan ponselnya lalu melihat kearahku dengan wajah yang begitu bahagia.
“Ada apa?” Kataku padanya yang juga sedang berusaha tersenyum sebaik mungkin.
“Dia mengajakku makan malam di luar malam ini!” Tao meraih tanganku lalu memelukku. Aku membalas pelukkannya.
“Bagus lah bila begitu. Jadi kau mau pulang sekarang?” Aku melepaskan pelukannya dan memasang wajah sebahagia yang ku bisa.
“Iya! Aku rasa lebih baik aku bergegas karena dia juga sedang berjalan dari tempat kerjanya. Bye, Kai.” Dia berlari sembari melambaikan tangannya padaku. Aku membalas lambaian tangannya sembari melihatnya yang berlalu bersama dengan salju yang juga turun ke tanah dan juga hatiku.



Hampir sebulan berlalu semenjak pertemuan kami waktu itu. Melihat dari pesan yang dikirimkan oleh Tao kurasa dia mulai menemukan kebahagiaannya bersama pasangannya hingga suatu malam ponsel ku berbunyi pertanda ada pesan. Aku melihat ke arah layar ponselku. Pesan itu dari Tao.
“Kai, dia mengajakku untuk pindah apartemen, ke tempat yang jauh lebih baik lagi katanya. Aku sangat senang sekarang dia mulai perhatian denganku dan juga mulai sering mengajakku untuk jalan-jalan keluar. Akhirnya aku tidak sendirian lagi sekarang.”
Aku melempar ponselku agar jauh dariku. Mungkin memang selama ini aku bukan apa-apa untuk Tao.

Aku memutuskan untuk tinggal sendiri di sebuah apartemen. Ayahku mengizinkan saja, lagi pula katanya aku sudah cukup dewasa untuk tinggal sendiri. Sudah sekitar dua minggu aku tidak membalas pesan Tao semenjak terakhir dia memberi tahu dimana dia akan pindah.
Beberapa kali dia mengirimkan pesan untukku yang isinya tetap sama tentang hari-hari bahagia nya bersama dengan pasangannya. Mungkin menurutnya walau aku  tidak pernah membalas pesannya lagi, setidaknya dia masih bisa menjadikan nomor ponselku sebagai buku harian rahasianya.
Sejujurnya perasaanku sangat tidak keruan setiap kali membaca pesannya ada emosi yang meledak namun selau teredam entah mengapa. Sampai sebuah pesan dari Tao yang mengatakan bahwa….
“Hai, Kai. Semoga kau selalu baik-baik ya. Hari ini aku sangat senang karena dia mengajakku untuk membuat hubungan yang jauh lebih serius lagi. Dia akan mengajakku ke Negara yang bisa melegalkan kami dan meresmikan hubungan kami. Ini sangat membuatku bahagia, bukan begitu? Semua saranmu juga sangat membantuku. Mungkin ini yang kuinginkan selama ini. Kami berangkat seminggu lagi.”

Entah mengapa napas kutercekat dan sangat sulit bernapas wajar.


Dua hari kemudian….
Malam ini aku menyiapkan yang mungkin tidak pernah aku pikirkan semenjak aku mengetahui alamat Tao yang baru. Aku turun ke naik satu lantai di atas apartemenku. Disana terdapat sebuah kamar, aku membukanya, karena aku tau dari semenjak aku pindah kesini bahwa kamar ini tidak pernah di kunci oleh pemiliknya. Yah mungkin mereka berpikir karena ini apartemen yang cukup memiliki privasi dan keamanan tapi siapa yang tahu. Lagi pula aku tahu siapa yang ada disini.
Napas ku memburu, perasaanku terbakar ketika aku melihat seorang pria berada tepat di atas tubuh Tao, mereka hampir tidak memakai pakaian selehai pun pada tubuh mereka. Sempat sekilas aku melihat wajah bahagia Tao. Itu membuatku semakin terbakar.
Dengan cepat aku berlari kearah pria itu dan menebas lehernya dengan sabit yang aku bawa, tubuhnya terjatuh dengan darah yang berlumuran ditubuhnya kulihat sabitku masih menggantung di lehernya yang hanya separuhnya saja yang terpotong. Badannya terseok-seok ke arah tembok seberang tempat tidur yang masih ada Tao yang Nampak ketakutan melihatku.
Aku merasakan semua urat wajahku tertarik ke atas. Melihat ke arah Tao yang melihat ke arahku lalu ke arah pria itu. Lalu dia berteriak begitu keras.
“KRIIIIIS!! “ Kearah pria itu, dan mencoba melompat ke arah pria itu tapi aku menahannya dan mendorongnya kembali ke atas tempat tidur lalu memberi ciuman singkat ke bibirnya. Tao menamparku.
“KAU GILA, KAI!! APA YANG KAU LAKUKAN PADANYA! KAU TAHU AKU SANGAT MENCINTAINYA!!” kata Tao sembari berontak untuk lari ke arah pria itu. Tapi aku tidak membiarkannya.
“AKU JUGA MENCINTAIMU BAHKAN LEBIH DARI DIA YANG DULU SERING MENYAKITIMU!! TIDAKKAH KAU SADARI ITU?!” Kataku yang menggenggam erat kedua bahu Tao dengan kedua tanganku. Tao sedikit terkejut namun aku melihat emosi lain di wajahnya.
“KAU GILA, KAI! KAU GILA! AKU TIDAK MENGANGGAPMU BERARTI! TIDAK MENGANGGAPMU SEBAGAI SESUATU HAL YANG BERARTI SEPERTI KRIS!” Emosiku memuncak mendengar kata-kata Tao. Tanganku reflek mengeluarkan pisau yang ada di kantong celanaku. Lalu menusuknya berkali-kali ke perut Tao.
“AKU SELALU MEMPERHATIKANMU….” Tanganku masih menusukkan pisau itu ke perut Tao.
“Ta-o…” Suara pria itu terdengar merintih setiap kali aku menusukkan pisau ke perut Tao.
“AKU SELALU BERUSAHA ADA UNTUKMU….” Kurasakan sendiri tusukan kusemakin dalam ke perut Tao. Lalu kulempar pisau itu jauh-jauh. Kulihat sprai tempat tidur yang tadinya berwarna putih sekarang memerah. Lalu aku mengangkat tubuh Tao keluar dari ruangan itu.






Tiga bulan kemudian….

“Sekarang kita berdua disini. Ditempat yang tidak ada seorang pun yang mengenal kita. Kau bahagiakan, Tao?” Kataku kepada Tao yang tertidur diatas tempat tidur.
“Tubuhmu semakin mendingin, mungkin lebih baik aku membelikan selimut baru untukmu.” Tanganku meraih tangan Tao yang kaku dan dingin. Tak apa, walau jantungnya sudah tidak berdetak seperti dulu, setidaknya sekarang dia hanya milikku dan selalu ada bersamaku.


END

No comments:

Post a Comment